Bu…pasti dulu berat banget yah waktu hamil aku. Bawa-bawa seonggok janin yang perlahan menjelma jadi manusia kecil kemana-kemana. Belum lagi harus mengalami perubahan fisik. Yang tadinya langsing jadi melebar. Yang mulus jadi jerawatan. Belum lagi perut yang gatalnya ga karu-karuan akibat membengkak. Lebih berat lagi waktu melahirkan aku yah, bu. Gimana bisa manusia kecil ini keluar dari rahimmu. Merobek sebagian daging tubuhmu. Dan darah yang tercecer kemana-mana. Lalu kerakusan aku akan air susumu. Teriakan-teriakan dari tangisanku. Ompolku yang ga berhenti-henti. Belum lagi mengajak bermain dikala dirimu ingin tertidur lelap. Lantas begitu sudah besar, aku ga kapok-kapok menyanggah omonganmu. Pura-pura ga dengar. Tapi, bu, ga ada tuh kata-kata darimu yang ingin memecat aku sebagai anakmu. Alih-alih begitu kamu selalu mendoakan aku. Untuk kesehatanku, untuk kesuksesanku, untuk jodohku, untuk aku yang juga kelak akan menjadi seorang ibu. Bu…apa yah…ga ada yang bisa aku ucapkan. Aku hanya berharap Tuhan membaca langsung isi hatiku dan mengabulkannya.
Ibu, aku sayang ibu.